MEWUJUDKAN LAYANAN YANG INKLUSIF MELALUI KOMUNIKASI YANG RAMAH BAGI PENYANDANG DISABILITAS NETRA DI DALAM PANTI REHABILITASI HIT BIA KUPANG

Oleh: Dewiyanti E. Folla | Editor: Admin Dinsos Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:18 WITA


Keterangan foto:

Undang – undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, membagi ragam disabilitas antara lain penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas intelektual dan disabilitas sensorik. Disabilitas sensorik yang biasa kita sebut disabilitas netra adalah individu yang memiliki hambatan pada penglihatannya. Disabilitas netra dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan, yaitu buta total (totally blind) dan kemampuan melihat mata rendah (low vision). Indera penglihatan atau mata memiliki peranan penting bagi individu dalam menjalankan proses adaptasi dengan lingkungan sekitar, karena mata mempunya fungsi untuk melihat suatu benda, dengan mata kita mengenali wajah orang, membaca dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dengan demikian dapat kita bayangkan apabila penglihatan kita terganggu tentu akan sangat berpengaruh terhadap aktifitas seseorang di dalam kesehariannya.

Panti Disabilitas Netra Hit Bia adalah panti Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berada pada kewenangan Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur, didirikan pada tanggal 01 September 1961, dengan nama Panti Pendidikan Pengajaran Kegunaan Tuna Netra Hit Bia Kupang (P3KT), seiring berjalannya waktu terjadi beberapa kali perubahan nomenklatur nama dan pada tanggal 28 Oktober 2019 berubah menjadi UPTD Kesejahteraan Sosial Tuna Netra dan Karya Wanita di Kupang dengan kelembagaan 1 (satu) Kepala UPTD, 1 (satu) Kepala Sub Tata Usaha serta 2 (dua) Kepala Seksi yaitu Seksi Kesos Tuna Netra dan Seksi Kesos Karya Wanita. Seksi Kesejahteraan Sosial Tuna Netra melaksanakan tugas pokok melakukan layanan Bimbingan Rehabilitasi Sosial bagi penyandang disabilitas sensorik netra, dengan tujuan untuk mewujudkan keadaan kemandirian bagi disabilitas netra untuk menjalankan kehidupannya sebagai individu dan warga negara yang cerdas, mandiri dan produktif tanpa diskriminasi dalam segenap aspek kehidupan dan penghidupan. Tahun 2026 Panti Disabilitas Netra Hit Bia Kupang memberikan layanan bimbingan rehabilitasi sosial bagi 50 Penerima Manfaat Sensorik Netra yang berasal dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten TTU, Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Maumere dan Kabupaten Ngada. Layanan rehabilitasi sosial yang diberikan mencakup beberapa tahapan yaitu : tahapan normalisasi, tahapan keterampilan dan tahapan kejuruan.

Dalam proses pelaksanaan kegiatan bimbingan rehabilitasi, dimana harus ada interaksi komunikasi antara instruktur dengan penerima manfaat sensorik netra. Tentu membutuhkan pola komunikasi yang baik, agar penerima manfaat sensorik netra dapat memahami dan menerima dengan baik informasi pembelajaran dalam tahapan bimbingan yang disampaikan oleh instruktur.

Ada 4 (empat) pola komunikasi yang digunakan oleh instruktur dalam membangun pendekatan dan komunikasi dengan penerima manfaat sensorik netra di dalam panti yaitu :

  1. Menepuk bahu, aktifitas ini dilakukan pada awal ketika kita ingin membangun   komunikasi dengan disabilatas netra, dengan menepuk bahu mereka dapat menyadari keberadaan kita.

  2. Perkenalkan nama, setelah menepuk bahu perkenalkan kepada disabilitas sensorik netra siapa diri kita karena ada pepatah tak kenal maka tak sayang

  3. Gandeng tangan, untuk orang normal aktifitas menggandeng tangan apalagi dengan orang yang tidak kita kenal tentu sangat mengganggu, tetapi untuk disabilitas sensorik netra ini adalah aktifitas yang menciptakan rasa aman bagi mereka

  4. Cara panduan arah, dengan menggandeng tangan kita menentukan arah pergerakan dari disabilitas sensorik netra dalam aktifitasnya.

Tetapi dalam membangun komunikasi dan adaptasi di dalam panti juga seringkali mengalami hambatan, yaitu :

  1. Rasa Aman, penerima manfaat sensorik netra masih merasa belum sepenuhnya aman dengan lingkungan panti, sehingga membuat selalu ingin pulang karena merasa rumah adalah tempat yang paling aman dan bisa paling bisa menerima keberadaannya.

  2. Rasa Percaya, hal ini juga memegang peranan penting dalam komunikasi dengan penerima manfaat sensorik netra, ketika tidak ada rasa percaya tidak akan terjalin komukasi yang baik dimana penerima manfaat akan mendiamkan semua hal yang menjadi keresahan, hal ini tentu sangat mempengaruhi komunikasi.

Beberapa tips untuk kita dalam membangun komunikasi yang efektif dengan disabilitas sensorik netra yaitu :

  1. Ketika kita melihat disabilitas netra tepuk tangan untuk menunjukkan keberadaan kita, karena disabilatas sensorik netra memiliki sensitifitas pendengaran yang baik.

  2. Jangan lupa untuk memperkenalkan nama kita, selanjutnya tanyakan apa yang menjadi kebutuhan atau bantuan apa yang bisa kita berikan kepada disabilitas netra.

  3. Ketika disabilitas netra menerima bantuan kita, maka yang harus kita lakukan adalah menggandengnya dibagian lengan, karena posisi ini akan memberikan kesan nyaman.

  4. Sambil menggandeng lengan disabilitas netra, kita bisa memberikan bantuan panduan dengan cara ucapan arah, seperti kiri dan kanan.

Penyandang disabilitas netra dalam proses sosialisasi membutuhkan rasa aman dan percaya, agar mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar terutama lingkungan panti Hit Bia. Pengelola panti harus bisa membangun komunikasi yang baik, menggunakan intonasi kata yang baik, memberikan arahan yang menyesuaikan dengan psikologis dari Penerima Manfaat disabilitas netra, yang tentu saja masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Pengelola panti harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman serta meningkatkan rasa percaya dari Penerima Manfaat disabilitas netra, sehingga mereka merasa seperti berada dalam lingkungan keluarga dan rumah mereka, untuk bisa menjalani proses bimbingan rehabilitasi dengan sukacita. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang tidak akan  pernah selesai bagi kita semua pengelola panti rehabilitasi disabilitas netra Hit Bia Kupang, karena keberlangsungan layanan rehabilitasi sosial dalam proses pembentukkan kemandirian disabilitas sensorik netra sangat ditentukan oleh tingkat keamanan, kenyamanan dan rasa percaya dari penerima manfaat disabilitas sensorik netra.